Home » Resensi Novel Api Tauhid Habiburrahman El Shirazy

Resensi Novel Api Tauhid Habiburrahman El Shirazy

  • Teman 
  • 5 min read
novel api tauhid badiuzzaman said nursi turki usmani
  • Judul Buku              : Api Tauhid
  • Nama Penulis          : Habiburrahman el Shirazy
  • Tahun Penerbitan  : 2014
  • Cetakan Ke              : Pertama
  • No ISBN                  : 978-602-8997-95-9
  • Harga Buku             : 75.000

Sebuah novel yang penuh dengan hikmah dan keteladanan cinta dari sang Mujaddid. Melalui keromantisan bahasa cinta masa kini. Yang membingkai rangkaian sejarah peradaban dunia Islam dengan sangat menarik, sehingga membuka kembali lembaran–lembaran sejarah yang telah terlipat dengan rapi. Dengan dihadirkanya tokoh “Badiuzzaman” atau “sang keajaiban zaman” yaitu ulama sufi Badiuzzaman Said Nursi. Yang dilahirkan dari kesucian cinta Sufi Mirza dan Nuriye.

foto badiuzzaman said nursi
pict: republika

Tokoh Sufi Mirza

Dimana Sufi Mirza adalah seorang yang selalu menjaga diri dari barang yang haram. Bahkan lembu-lembunya atau  (domba dalam bahasa indonesia) tidak diperbolahkan memakan rumput yang yang bukan haknya atau tidak halal. Mirza juga menghiasi nafasnya dengan selalu berdzikir kepada Allah. Sedangkan isterinya (seorang hafidz) selalu menjaga dirinya dalam keadaan selalu berwudhu.

Saat mengandung anak-anaknya, termasuk mengandung Said, Nuriye tidak akan menginjakkan kakinya ke atas bumi kecuali dalam keadaan suci, dan tidak meninggalkan shalat malam. Lahirlah sosok Said yang sejak kecil sudah menampakan kecerdasanya dengan ia selalu bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada ibunya “ketika berdialog said kecil bartanya apakah pohon-pohon itu bertasbih ibu? Dan ketika memandangi bulan di langit, ia bertanya bagaimana cara bulan bertasbih ibu?” hlm 157.

Menghafal alquran hanya 20 hari

Sejak kecil ia sudah biasa menghapal puluhan kitab dan waktu muda ia menghafal alquran hanya 20 hari. Nafas-nafas patriotisme, ketajaman analisis pemikiran, kecerdasan menghafal banyak kitab, giat menuntut ilmu, menolak kedzliman para penjajah, Serta kebijakanaan cinta kasih  sebagai terapi penyakit suka bermusuhan tertuang dalam kata-kata beliau “diantara yang paling penting yang telah aku pelajari  dan aku dapatkan dari kehidupan sosial manusia sepanjang hidup. Bahwa cinta adalah sesuatu yang paling layak untuk dicintai, dan permusuhan itu sendiri adalah sesuatu yang harus di musuhi.

kerenanya, yang menjadi jaminan tentramnya kehidupan sosial manusia adalah cinta, dan menjadi faktor penting terwujudnya kebahagiaan, itu lebih layak di prioritaskan dan di cintai. Sebaliknya tabiat permusuhan dan kebencian yang menjadi faktor perusak tatanan sosial merupakan sifat paling buruk dan paling berbahaya. Ia paling layak untuk di hindari dan di jauhi.” hlm 372.

Sebuah pernyataan yang sangat inspiratif yang ia ungkapkan saat khutbah pasca keluar dari penjara. Sepotong kekuatan cinta yang ia gunakan dengan bijak. Sehinga ia patut disebut intelektual muda yang pemberani dengan memiliki  Jiwa patriotism yang tinggi serta cinta kasih.

baca juga: adat istiadat budaya lokal jawa dan agama islam

Kekacauan politik di Turki Usmani

Di saat politik Islam sedang terpuruk di Turki Usmani, serta pada saat dinamika peristiwa penghapusan sistem khilafah. Said Nursi adalah ulama besar yang sangat berpengaruh pada waktu itu. Dengan kecerdasan argumenya itu ia menentang kekejaman kepeda rezim sekuler.

Sehinga penjara demi penjara ia jalani, namun dengan semangat berdakwah. Ia tetap menulis untuk memberikan perlawanan pada rezim kelaliman dengan kata-katanya yang bercahaya, sehinga karya monumentalnya Risalah Nur juga lahir dari dalam penjara dan pengasingan diri.  Dan ketika perang Dunia ke-1 meletus.

Ia pun selalu berada di garda paling depan dalam memimpin perang, ia sangat tangguh dan ia memiliki akurasi yang tinggi dalam tembakan Dan juga karna sangat mencintai ilmu-ilmu allah. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehinga ia mampu menjaga semangat juang dan ibadah para murid-muridnya.

Nilai-nilai tauhid serta jalinan kisah cinta masa kini

Sejarah yang merupakan pengalaman masa lalu (mati) dalam novel ini menjadi hidup kembali, berkat kemampuan kreativitasnya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara indah dan menawan. Dan dengan memadukan nilai-nilai tauhid serta jalinan kisah cinta masa kini, kisah cinta dari seorang mahasiswa UIM Madinah dengan seorang anak dari kyai Arselan dari lumajang, pengasuh pondok pesantren paling besar di Yosowilangun. Fahmi remaja yang diminta oleh kyai menikah secara sirri dengan putrinya Nuzula, mereka menjalani lika-liku asmara dalam kehidupanya sebagai mahasiswa, yang harus terpisah setelah menikah antara Madinah dan Jakarta (tempat Nuzula kuliah). Di sisi lain keduanya harus selalu menjaga kesucianya, karna ayah Nuzula belum mengizinkan Fahmi untuk mengauli istrinya.

Jejak-jejak perjuangan Badiuzzaman Said nursi di Turki

Ketika cinta mengalami delima, Fahmi menghibur dirinya ke Turki untuk menyaksikan jejak-jejak perjuangan Badiuzzaman Said nursi, di Turki yang sangat modern saat ini. Fahmi ditemani beberapa temanya, salah satunya aysel dia adalah gadis Turki yang setelah menemani Fahmi beberapa hari di Turki, ia terpesona dengan keromantisan Fahmi, karna mereka berdua juga terlibat peristiwa yang tak terduga, yang memainkan rasa antara mereka berdua.

menjadi bacaan reflektif terhadap pembangunan peradaban Islam masa depan adalah isi Novel Api Tauhid. Mengisi jiwa-jiwa para pejuang peradaban. serta menjadi sarat hikmah sejarah yang berfungsi untuk menjadikan peristiwa masa lalu  sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi sekarang.

Dimainkan dengan bahasa cinta yang menawan, dengan sentuhan imajinasi yang kreatif. Menjadikan novel ini sarat dengan nilai-nilai keteladanan yang sangat inspiratif untuk para remaja dan pelajar saat ini.

Demikian semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.