john kotler implemantasi pendidikan multikultural di indonesia
Home » 3 Implementasi Penting Pendidikan Multikultural di Sekolah.

3 Implementasi Penting Pendidikan Multikultural di Sekolah.

  • by
  • 6 min read

Setelah kita mengetahui pentingnya pendidikan multikultural dan serta ciri dan bentuknya. Maka kita akan membahas mengenai Implementasi pendidikan multikultural di sekolah. Ke 3 hal tersebut akan kami bahas satu per satu. pertama: kultur sekolah, kedua: manajemen sekolah dan ketiga adalah proses pembelajaran. 

1. Kultur sekolah

Implementasi Pendidikan Multikultural yang pertama terletak pada kultur sekolah. Pengertian Kultur adalah pandangan hidup yang diakui bersama oleh sekelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, bersikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur juga dapat dilihat dari cara pandang seseorang dalam mengatasi kehidupannya baik masalah maupun cara memecahkannya. Oleh karena itu, kultur secara alami akan di wariskan oleh satu generasi ke generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang di desain untuk memperlancar transmisi kultur antar generasi tersebut. 

artinya bahwa Kultur sekolah yang memungkinkan bagi tercapainya kesuksesan belajar siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda perlu dirancang sedemikian rupa, sehingga sekolah menjadi komunitas yang mencerminkan living values yang ditetapkan bersama.

Hilangnya identitas diri sebagai pelajar yang sedang menuntut ilmu dan kebersamaan sebagai warga sekolah telah membawa akibat-akibat yang negatif seperti sikap tidak peduli, minimnya komunikasi antara guru dan murid sehingga berakibat pada hilangnya rasa saling memilki terhadap keberadaan sekolah dan pada gilirannya hilang pula solidaritas dan kerja sama antar warga sekolah. Sebaliknya, para siswa membentuk wadah komunikasi sendiri yang bersifat liar dan destruktif dengan membentuk gank-gank. Jika keadaan ini tidak segera disadari dan diperbaiki, maka para pelajar kita akan semakin jauh dapat melaksanakan pendidikan multikultural.

Cara membenahi dan menumbuhkan kultur sekolah

Berkaitan dengan masalah di atas, hal yang dapat dilakukan adalah membenahi dan menumbuhkan kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran multikultural adalah dengan cara sebagai berikut:

  • Tumbuhkan rasa bangsa dengan identitas pelajar sebagai siswa di sekolah tersebut
  • Jalin komunikasi yang efektif di antara warga sekolah, baik guru, siswa, staf sekolah maupun orang tua dan komite sekolah.
  • Sosialisasikan visi dan misi sekolah berulang-ulang dengan berbagai media yang mudah dipahami siswa, misalnya dengan tulisan-tulisan yang menyentuh hati nurani dan kesadaran human seluruh warga sekolah
  • Diadakan kegiatan di luar sekolah yang mengarah pada Kerjasama dan kebersamaan antara siswa dan guru. Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan akan terwujud kultur sekolah yang humanistik dan menghargai keragaman.

2. Manajemen sekolah

Implementasi Pendidikan Multikultural yang kedua terletak pada manajeman sekolah. Sekolah yang hendak mewujudkan tujuan kesempatan dan kesetaraan dalam belajar sebagaimana yang menjadi fokus pendidikan multikultural haruslah dikelola dengan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat. Kepala sekolah tidak hanya sebagai manajer, melainkan lebih dari itu. Ia harus menjadi leader (pemimpin).

Pemimpin yang baik adalah yang mempunyai kepekaan terhadap keterdesakan (sense of urgency).

John Kotler

Menciptakan koalisi yang memimpin perubahan, mengembangkan visi dan strategi, mengkomunikasikan visi, memberdayakan bawahan untuk aksi yang luas, mengakumulasikan keberhasilan demi keberhasilan. Merayakan keberhasilan dan menghasilkan keberhasilan baru, serta menancapkan pendekatan baru dalam budaya organisasi. 

Pentingnya kepemimpinan kepala sekolah

Dengan adanya otonomi sekolah di era desentralisasi sekarang ini, kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting untuk mewujudkan tujuan pendidikan multikultural. Kepala sekolah yang dapat melaksanakan delapan tahap sebagaimana dinyatakan Kotler di atas diprediksi akan berhasil dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Prinsip kesempatan yang sama di satu sisi dan kesetaraan di pihak lain harus menjadi pedoman kepala sekolah dalam membimbing para guru dan staf sehingga siswa yang berasal dari latar belakang sosial-ekonomi dan budaya yang terpinggirkan mendapatkan perhatian yang lebih agar dapat mencapai standar kesuksesan yang telah ditetapkan. Sementara itu, siswa yang telah mempunyai keberuntungan karena perbedaan kultur dan tingkat sosial-ekonomi orang tua diberikan pengertian dan kepekaan untuk saling memahami. Saling membantu dan saling peduli kepada teman-temannya yang kurang beruntung. 

Sekolah juga hendaknya menciptakan kesempatan dan kegiatan yang memungkinkan siswa dapat memiliki kecakapan hidup (life skills) yang mengarah pada dikuasainya keterampilan tertentu (pekerjaan tangan, kerajinan) untuk dapat sebagai bekal mencari nafkah, ketika para siswa yang kurang beruntung ini tidak bersekolah lagi, karena keterbatasan yang dimilikinya. Bagi siswa yang beruntung secara sosial ekonomi. Life skills berguna pula bagi hidupnya, setidaknya dengan dikuasainya keterampilan tertentu ia akan dapat menghargai pekerjaan tangan yang selama ini sering dipandang rendah.

3. Proses pembelajaran

Implementasi Pendidikan Multikultural yang ketiga terletak pada proses pembelajaran. Pembelajaran yang mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan multikultural adalah pembelajaran yang berdasarkan pada pedadogik transformatif. Pedagogik transformatif adalah pedagogik yang mengungkapkan kebebasan dan sekaligus keterbatasan manusia, serta menekankan pentingnya partisipasi dengan sesama manusia.

Partisipasi dengan sesama manusia menuntut tindakan-tindakan atau kelakuan yang mau menerima sesama manusia sebagaimana adanya. Tanggung jawab, toleransi, kerja sama, saling membantu. Saling menghormati pendapat orang lain dan berbagai sikap dan serta kelakukan manusia yang memperkuat kerja sama. Merupakan nilai-nilai yang mendapatkan prioritas di dalam proses pembelajaran yang berlandaskan pedagogik transformatif. Di samping itu, pedagogik transformatif juga mengungkapkan keterbatasan manusia, implisit di dalamnya mengandung pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta.

Proses pembelajaran di Indonesia sekarang ini kurang berdimensi sosial, karena lebih memperhatikan pada kesuksesan individu. Persaingan dipandang sebagai hal yang sehat agar dapat menjadi pemenang (sukses belajar). Semua itu sebenarnya adalah cara-cara belajar yang didasarkan pada filsafat individualisme dan liberalisme.

Proses pembelajaran di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, proses pembelajaran harus dilandasi semangat interdependensi, saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Prinsip 63 win-lose solution yang mengutamakan persaingan dalam belajar harus diganti dengan win-win solution yang mengutamakan keberhasilan bersama. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran dituntut untuk peka terhadap beragam latar belakang peserta didik.

Maka, proses pembelajaran yang bersifat multikultural harus menggunakan materi yang mengintegrasikan beragam kultur dan kondisi sosial ekonomi. Pengadopsian materi tanpa melihat konteks dan kultur masyarakat penerimanya akan berakibat buruk bagi kemajuan belajar siswa. Demikian pula, metode pembelajaran bervariasi karena disesuaikan dengan karakteristik dan cara berpikir (proses memperoleh pengetahuan) yang beragam. Teori-teori multikultural menegaskan bahwa nilai-nilai, sejarah pribadi, sikap-sikap dan keyakinan seseorang tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan yang dihasilkannya. .

Ditinjau dari aspek ekonomi, sebagian besar orang Indonesia adalah orang miskin. Secara demografis mereka lebih banyak terdapat di luar Jawa dan tinggal di pedesaan. Kemiskinan menghambat orang untuk dapat mencapai kesetaraan pendidikan dan peluang untuk sukses. Lingkaran kemiskinan merupakan lingkaran setan yang sulit sekali untuk diputus rantainya. Maka, pendidikan multikultural di Indonesia harus diprioritaskan pada upaya mengangkat peserta didik dari kelompok miskin agar mereka lebih berdaya dalam kehidupannya. Dibandingkan keluarga atau masyarakatnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran yang bersifat multikultural untuk Indonesia saat ini lebih diprioritaskan pada upaya memberdayakan kaum termarginalkan ini dari sisi ekonomi, tanpa melupakan sisi yang lainnya. Proses pembelajaran diupayakan agar mencapai paradigma aksi, bukan sekedar akumulasi pengetahuan teoritis yang pasif. Peserta didik diajak berdialog untuk membangun kesadaran kritis yang berujung pada aksi pemberdayaan, bukan pembelengguan.

Arti sederhana pendidikan multikultural

Pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai sebuah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua mata pelajaran. Caranya menggunakan perbedaan-perbedaan kultur yang ada pada siswa seperti perbedaan. contohnya Etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar supaya proses belajar menjadi efektif dan mudah serta sekaligus untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu untuk bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam keberagaman baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Buah dari Implementasi Pendidikan Multikultural adalah adanya sikap toleransi, sikap toleransi  bukanlah bernegosiasi dengan filosofis agama lain, melainkan bahwa kita memiliki keyakinan mendasar yang berbeda dengan keyakinan orang lain dan kita mentolerir hal tersebut. Dengan mengetahui tradisi agama lain maka seseorang akan mengetahui nilai-nilai universal yang terdapat dalam agamanya dengan agama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.