Home » Estetika Islam

Estetika Islam

  • by
  • 4 min read
buku sawah fina art dalam estetika seni islam seni indoesia, seni lukis

Apa itu estetika?

Secara etimologis estetika berasal dari kata Yunani ; aisthenasthai, alias ‘persepsi’. Dari sana muncul kata aisthetes yang berarti ‘subjek persepsi’ dan aisthanomai yang berarti ‘saya menyadari sesuatu’. Estetika menelaah reaksi yang berhubungan dengan rasa manusia serta mencermati persepsi keindahan.

Makna estetika dalam islam

Penciptaan karya seni (secara estetika islam) digolongkan sebagai kegiatan “intelektual” yang berhubungan dengan “Hikmah dan Makrifat”. Seorang seniman bila ingin mencapai puncak karirnya harus mempelajari ilmu-ilmu metafisika, logika, fiqih, hadist, tafsir Qur’an, matematika, optik, biologi, kimia dan budaya. Makna estetika dalam tradisi Islam diambil dari Al-Qur’an dan Hadist, yang berisikan : Jamal dan husn, artinya keindahan lahir yang tidak sekedar mempesona. Orang yang kurang pengetahuannya tentang Qur’an dan hadist mudah terjerumus dalam keindahan yang lahiriah atau indah dimata saja. Orang yang arif-bijaksana dapat melihat dibalik keindahan sampai pada yang hakiki atau batiniah.

Seni rupa Islam banyak menampilkan ornamen dengan pola alam, flora berbentuk daun-daunan, bunga, pemandangan alam, ornamen geometri dan kaligrafi Arab. Seni kaum Muslim, sering disebut juga dengan seni pola-pola infinit atau “seni infinit”. Ekspresi estetis ini juga dinamakan “arabesk” (arabesque). Arabesk tidak hanya terbatas pada jenis desain daun (leaf design) yang telah disempurnakan melalui deformasi dan ornamentik kaum Muslim. Ia juga bukan sekedar pola-pola abstrak dua dImensi yang menggunakan kaligrafi, figur-figur geometris, serta bentuk tumbuh – tumbuhan. Melainkan entitas struktural yang selaras dengan prinsip-prinsip estetika ajaran Islam. Prinsip-prinsip ini dilandaskan pada sifat tak terbatas atau infinitas. Infinitas ini menggambarkan ketakterbatasan dalam ruang dan waktu yang diarahkan kepada yang ilahi, sehingga seni menjadi penguat dan penegak keyakinan agama.

Pendapat imam al-ghazali

Al Ghazali berpendapat bahwa pada dasarnya Allah telah memberi akal dan panca indra pada manusia. Dimana panca indra dapat dan selalu ingin menikmati nalurinya masing-masing. Naluri disini termasuk naluri untuk menikmati keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah keindahan yang berada dalam dunia spiritual, yaitu roh. Dimana roh ini akan memberikan kegairahan hati dan harmonisasi dalam seni. Keindahan suatu benda terletak pada “perwujudan yang sempurna” sesuai dengan sifat atau karakter benda tersebut.

Ia berpendapat bahwa keindahan memiliki peringkat atau hirarki yang sesuai dengan pengalaman kesufian seseorang. Yaitu : syari’at atau formal, Tarekat yang berhubungan dengan nilai-nilai moral atau akhlak, Kemudian meningkat menjadi hakekat atau makna hidup, akhirnya pada tingkat Makrifat atau keindahan tertinggi. Pada Makrifat seseorang mencapai keindahan tertinggi melalui pelatihan spiritualnya.

5 Peringkat keindahan menurut al-ghazali.

  1. Keindahan duniawi, bersifat sensual yang berhubungan dengan hedonisme dan materialisme.
  2. Keindahan alam semesta yang diciptakan oleh Allah sebagaimana adanya.
  3. Keindahan moral / akhlak yang dapat merangsang pikiran, renungan yang dalam, kontemplasi yang kemudian ditampilkan dalam karya seni.
  4. Keindahan rohani terkait dengan akhlak atau moral dan pengetahuan hakekat dari segala sesuatu pada diri seseorang, yaitu tentang karya seni dan ilmu.
  5. Keindahan ilahi merupakan keindahan sempurna.

Puncak kebahagiaan mengalami keindahan ialah kebahagiaan yang dapat membawa masyarakat mengenal Tuhan serta mengenal hakekat diri manusia sebagai mahluk yang memiliki roh. Maka, tradisi Islam karya seninya dipenuhi dengan tema-tema estetis tentang Kerinduan terhadap Tuhan dan Surga. Tentang Cinta mistikal, tentang makrifat, tentang hakekat diri manusia.
Seni dan keindahan yang ada di dalamnya, dikaitkan dengan hasrat manusia terhadap ; kesempurnaan, kebahagiaan, kebaikan diri, serta kebenaran.
Sedangkan dalam hukum Islam seni itu boleh. Tetapi, karya seni harus merupakan ibadah yang bercirikan ikhlas (muncul dari hati, tanpa paksaan), mardhatillah atau landasan penciptaan bernuansa indah, amal saleh yang artinya bermakna, bernilai, manfaat bagi diri sendiri dan orang lain dalam hubungan sosial.

Nilai dalam filsafat dipakai sebagai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Bahwa nilai terdapat dalam jiwa manusia bukan pada bendanya sendiri.

Disarikan dari : – Untuk Apa Seni, Editor Bambang Sugiharto, Matahari, 2014. – Materi Mata kuliah Estetika, Harsono.

tulisan menarik lainya:

Leave a Reply

Your email address will not be published.